Jumat, 03 April 2020

Karangan


Judge Mental

Beberapa hari lalu, bahkan hari ini masih menjadi sorotan tajam dan perbincangan yang hangat tentang kasusu prostitusi onlen yang menimpa salah satu artis tanah air. Awal tahun 2019 ini mungkin menjadi suatu peristiwa pahit yang menimpa dirinya karna dimulai saat itulah, Popularitasnya  jatuh dan tentunya ini sangat berdampak bagi karir dan masa depannya hhe nebak aja sii. Jujur, kejadian ini sempat membuat saya tercengang dengan munculnya beberapa media yang memuat sejumlah berita dari sudut pandang yang berbeda mengenai kasus tersebut, sehingga  dapat menggiring saya untuk percaya adanya tragedi menjemput rizki ditahun 2019 . Bagimana tidak? Lagu yang dulu pernah dibawakan dan sempat tenar di tahun 2012 itu adalah salah satu lagu yang sering  saya nyanyikan, walaupun Cuma dikamar mandi si nyanyinya hehe. Yaa gimana ya, secara tidak langsung hati saya bergumam “lh kok bisa sih?, lh gila artis nih!, lah emang dah jatuh miskin ya sampe nglakuin kerjaan kaya gitu?” mungkin komentar hati saya ini tidak jauh beda dengan kebanyakan netizen yang ada diluar sana.
  “Delapanpuluh juta buat beli...., delapanpuluh juta sekali celup,delapanpuluh juta bla-bla-bla” begitulah sekarang meme-meme dan komentar sarkas netizen yang ramai beredar di media sosial. Bahkan kata kunci 80 juta pernah menjadi tranding topic di twitter, dan sempat bingung juga sebenarnya ada apa sih dengan  80 juta tuh? Eh ternyata, itu semacam tarif yang ditetapkan gitu lo guys, tapi untuk berapa jam-nya sih aku ndak tau ya hhe. Sontak aku kaget lagi tapi mikir nih “ hadu gila 80 juta gede cuy, paling juga kerjanya gitu-gitu aja wkwk. Eh tapi kalo kalangan artis uang segitu gede gak ya?” yaa begitulah, masih meninggalkan jawaban menggantung dalam diri saya tentang tarif yang ditetapkan. Mahalkah? Entah.
Tak tahu kenapa, Seketika alam bawah sadar saya langsung underestimate banget kalo denger nama artis tersebut. Ditambah dengan semakin banyak beredarnya meme dan komentar-komentar pedas netizen membuat saya jadi ikut-ikutan komentar sengak. Selalu mengikuti berita terkini yang muncul di TL-ku, komentar dilontarkan, begitu asyik, mental judge saya terlihat sangat terlatih dan soft skil ngebacot semakin bertambah.  Sampai pada akhirnya tiba-tiba saya sadar dan teringat dengan semacam wejengan dari sang budayawan Sujiwo Tedjo yang intinya “Janganlah kita merasa lebih suci dan lebih baik dari orang yang telah melakukan suatu kesalahan’’ disitula hati saya mulai terbuka, rasanya ingin menghapus semua komentar yang pernah saya lontarkan. Betapa unfaedahnya pekerjaan saya ikut mengomentari negatif hidup orang lain yang sedang terkena musibah. Di sisi lain, memang benar bahwa disitulah saya merasa lebih suci, lebih baik, lebih berharga dari si artis tersebut.
Setelah di telaah lagi, kenapa yang rame hanya mbak artisnya yang di kasuskan? kenapa pengguna jasa layanannya juga tidak begitu disoroti? Tidak diusut? Apakah karena sang pengguna layanan laki-laki gitu ya? Lebih berhak menang? Oh jangan terlalu shuudzan mungkin saja di peraturan  UU hanya memberikan hukuman terhadap pelayan jasa saja. Yaa khusnudzan saja, yang dilakukan oleh aparat hukum itu yang paling adil dan paling benar atas dasar kemanusiaan. Anggap saja kesenjangan gender sudah tidak ada, dan inilah output dari era yang menggembar-gemborkan kesetaraan gender. Hahaha
Salam Waras!


NB: Artikel ini saya tulis pada tahun 2019, pada saat itu sedang panas berita tentang seorang artis yang terjerat dalam kasus prostitusi onlen. bukan bermaksud mengungkit kembali tetapi memang baru saya post tahun ini hahah lama bgt gatau dah ngapain aja kemaren-kemaren.

puisi Alam


Kau Kemanakan Keindahanku
Oleh : Barokatul Mas’udah


Alamku bernyanyi
Lantunkan senandung kasih
Dendangkan kicauan kicauan yang memenuhi sudut semesta
Ciptakan keteduhan yang tak bisa terbayarkan
Kau tunjukkan sketsa natural yang entah kau dapatkan darimana pensil warna yang menghiasimu
Sepoy angin yang selalu menerpa,sedikitpun tak merubah esensimu
Deras hujan yang berkunjung, selalu kau sambut dengan berjuta inovasi dan ide cemerlangmu
Ah...semua terlihat selalu baik baik saja
Seakan tak adapeperangan semesta
Tapi sayang..
Itu hanya realita ratusan tahun yang lalu
Masa dimana alam ini masih memiliki hak untuk berbangga pada dirinya sendiri
Masa dimana semesta ini  bebas berekspresi dan berinovasi
Masa diamana sebagian manusia memiliki rasa kemanusiaan untuk menghidupkan alam ciptaanNya
Dan sekarang alamku menangis,
alamku berduka
Dimanakah makhluk yang layak disebut manusia?

Wahai penghuni semesta
Alam membutuhkanmu,
Alam merindukanmu,
Alam mencarimu

Sekarang lihatlah..
Perseteruan antara hutan dan bumi yang sudah tak dapat dikompromi lagi
Hingga muncullah banjir sebagai produksi
Terjadilah tanah longsor yang membuat resah para pribumi
Ah..belum lagi kejadian yang satu ini
Si jago merah melahap ribuan tanah yang tak bersalah.
Kau tebang,lalu kau biarkan gersang
Kau bakar, lalu kau berkoar-koar menyalahkan tuhan 
dengan dalih tuhan yang menginginkan semua ini terbakar.
Ah..manusia
Memang begitulah wataknya.

Puisi Galau


Pergi!


Sudah ribuan hari
Tak kunjung bayangmu menghilang
Melebur bersama kenangan
Yang pahitnya tak karuan
Aku sudah mencoba mengiklaskan
Tapi entah kenapa, sesak selalu melanda
Dengan mudahnya,
Kau bangun persinggahan lagi setelah aku pergi
Tapi aku, tetap kukuh untuk menyendiri.
Aku ini bodoh atau apa?
Membiarkan perasaanku menderita dan terlunta
Menyayat dengan segenap nyata.
Ahh, kau ini laki-laki yang tak tahan sendiri
Tanpai pikir lagi, kau ganti sepi dengan hati yang baru lagi
Beda dengan aku yang nekat ini.
Bagiku, Sepi bukan menjadi hal yang asing lagi
Tapi aku sudah menikmati
Kutikam sepi lalu kujadikan tangis yang ngeri.
Hai yang diam-diam masih ku nanti
Masihkah kau ingat janji yang pernah kita tuai?
Bertanda tangan lengkap dengan selembar materai
Menyatakan akan baik-baik saja apabila kita bertikai
Yasudahlah, kita batalkan saja janjinya. Toh itu tak berarti.
Kang, jalan hidup kita mungkin sudah berbeda
Tapi bukankah pertemanan kita berlangsung selamanya?
Taukah, Kita bagaikan dua buah garis lurus yang takkan pernah bersinggungan
Kita adalah sepasang insan yang takkan pernah berurusan, Lagi.
Yah, betapa kecewanya
Tak dapat seakrab seperti dulu lagi
Tak dapat bertukar cerita denganmu lagi
Tak dapat tertawa dengan canda gilamu lagi
Hei,kang
Sebenarnya Banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan
Rasa sakitku, perjuanganku, kepedihanku, kebahagiaanku
Dan masih banyak yang lainnya.
Sudah hampir dua tahun aku merakit hati yang hancur
Tapi sampai saat ini masih ada puing-puing yang kau curi
Masih ada perekat yang kau bawa
Masih ada secuil partikel yang kau sembunyikan
Hentikan permainan ini, mari kita mulai kembali.
Kang, jujur aku rindu senyummu.

Nb: Ini adalah puisi yang aku buat untuk someone juga. Saya lupa persis buatnya kapan karena memang tidak ada keterangan tanggal. Tapi sepertinya tahun 2017.  Untuk klarifikasi saja, puisi tersebut sudah tidak relate dengan perasaan saya yang sekarang. Tidak ada relasi sama sekali. saya hanya ingin mengepost karya saya di blog ini hehe
.
Review : Dari puisi diatas keliatan banget penulis selalu keppo tentang kehidupannya yang dimaksud. hahah ya gimana dulu masih sayang. Duluuu ini ya. ya lucu, ketawa sendiri kalo baca ini. Gapapa lah, harus diapresiasi ini adalah sebuah karya. 

wtf


Sejak Kau
Oleh : BeMas’udah

Mencoba memberi ruang satu jengkal saja
Untuk melatih rasa agar sembuh seperti semula
Aku ingin, Ikut merasakan getaran arus asmara
Yang mereka pancarkan  dengan cara yang entah bagaimana

Sejak kau tinggal,
Aku menjadi susah normal
Semakin manjadi pribadi yang binal
Dan merasa hidup ini penuh sial

Sejak kau pergi
Aku tidak lagi menjadi diri sendiri
Semakin menggila akan duniawi
Dan merasa hidup ini kekal tanpa  mati

Sejak kau tak pulang
Aku berubah menjadi jalang
Semakin liar dan sering menghilang
Dan merasa bahwa aku ini manusia paling malang

Sejak kau jauh
Aku berubah menjadi rapuh
Semakin sensitif dan gampang terpengaruh
Dan merasa bahwa nikmat tuhan yang diberikan tak pernah utuh

Sejak kau tak kembali
Aku paham artinya menanti
Semakin nyeri setiap hari
Dan aku faham apa arti memiliki

Sejak kau hilang
Aku pulang 
Kau pergi
Aku kembali
Kau menjauh
Lalu Kita menjadi asing

Semarang 20 Desember 18

Puisi Intropeksi


Apa yang salah ?
oleh : Be Mas'udah


Apa yang salah dengan diri ini?
Tak bisa berbenah dan selalu saja lengah 
Aku tau, diri ini hanyalah manusia
Tempat salah dan lupa 
Tapi aku begitu terdoktrin dari pepatahnya

Kusengaja buat kesalahan
Kemudian menyesali bahkan menangisi
Kusengaja ciptakan kesalahan yang sama lagi 
bahkan melebihi 
Dengan dalih...

“Aku hanyalah manusia
Tempat salah dan lupa”

Selalu begitu 
Tetapi aku suka 
dan itu, siklus sepanjang masa.

Ahh, aku ini sepertinya demensia 
Lupa akut dengan disengaja

Beginilah hidup jika tak memakai rumus syukur
Selalu saja hati dan fikiran tak pernah akur
Merasa bahwa tuhan selalu membri nikmat yang prematur

Ayolah, tumbuh dengan hati yang dewasa
Bukan malah mengkerdil dan memanja

Andai kau tahu, hidup tak selalu memihak pada keinginanmu!
Dan mau tak mau, kau harus selalu khusnudzan dengan sutradaramu.

Sudah, jangan banyak bersajak.
Mari beranjak!



Semarang,24 april 2017


puisi lebay jaman dulu


HI, YOU
Oleh ; BeMas’udah

Segenap rasa sudah aku relakan
Berlari kemana dia seharusnya bertempat
Mewujudkan mimpi yang sempat aku sekat
Dulu,
Dulu sekali aku pernah menjadi benalumu
Menjadi penghalang dalam setiap mempimu
Menginginkan jadi prioritas yang tak boleh terabaikan
Bersikap kekanak-kanaan tanpa malu dan rasa sungkan
Ah biarkan!
Hai kau, Apakabar hari ini?
Sebenarnya logikaku enggan mengatakan demikian
Tapi nuraniku ini kecepolsan
Aku tak menyesalinya
Mungkin saja seketika itu kau besar kepala
Sambil berbisik “ yash aku menang dalam perang dingin ini’
Pikiranku sudah tak se idealis dulu
“cewek harus disapa dulu” sudah bukan pemikiranku
Aku sadar bahwa kita diam itu tidak baik-baik saja
Masih ada kekecewaan yang menganga
Entah, tapi aku sudah mencoba menepis dan mengabaikan
Kau, baik-baik kan disana?

Semarang, 16/10/18


Nb : Ini adalah puisi jaman dahulu yang pernah saya buat untuk seseorang. Ya sekitar dua tahun lalu tapibaru saya post. bukan berarti masih relate dengan perasaan saya saat ini loh ya hehe

diskusi

doc.pribadi 

SUDAHKAH KITA HABLUMMINAL’ALM?
Oleh : BeMas’udah


“Bagaimana bisa dikatakan hablummnianal’alam kalau mengusir hama yang ada pada tanaman saja masih menggunakan racun atau bahan kimia untuk mematikannya? Dan apakah hasil panennya yang dinikmati itu masih relevan dengan konsep Halalan Toyyibah yang sejak dulu sudah di gembor-gemborkannya?”
Begitulah kira-kira statment yang dilontarkan oleh salah satu perwakilan organisasi Lidah Tani dari Blora pada saat konferensi agraria yang perah saya terjebak dalam diskusinya.  Kalimatnya cukup membuat bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri. Itu adalah kalimat yang sangat menyentuh hati saya terkait dengan lingkungan alam. Bukan hanya itu tetapi dia menyinggung tentang konsep halalan toyyibah yang dalam agama islam sudah menjadi dalil dasar pada konteks rizqi. Begitu kritis dan rasional memang. Saya tidak menyangka bahwa seorang petani dari desa memiliki pemikiran yang sangat luar biasa bahkan pemikiran tersebut belum tentu muncul dan tergagas dari otak para kritikus atau akademisi.
           Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan pernyataan diatas dengan alasan bahwa hama atau serangga memang hewan yang mengganggu tanaman dan harus disingkirkan bahkan dibunuh, karena akan merugikan petani dan memperlambat produktivitas panen. Sebelumnya saya juga berfikiran demikian akan tetapi setelah mendengar statment dari pak Thoha, seorang petani dari Blora yang memiliki tenggang rasa yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar dan ternyata saya terpengaruh dengan pemikirannya. Pemikiran yang berbanding terbalik dengan apa yang saya pikirkan.
      Menurutnya, tak ada hak bagi kita membunuh apa-apa yang sudah tuhan ciptakan. Ia membiarkannya hidup hanya saja tidak membiarkannya untuk berkembang biak. Jadi lahirnya pemikiran yang kritis tersebut juga dibarengi dengan action yang sungguh luar biasa. Tidak hanya kritak kritik tanpa adanya progres seperti mahasiswa yang sukanya demo dan tak memberi solusi. Ia memiliki pemikiran yang jauh lebih berkualitas yaitu dibuktuikan dengan adanya tindakan dengan membuat pupuk alami dengan sahabat-sahabat lidah tani. Pupuk tersebut digunakan untuk mempertahankan tanaman-tanamanya agar tetap bertahan samapi panane itu tiba. Pupuknya bukan bersifat membunuh tetapi hanya bersifat menghentikan populasi hama agar tidak berambah banyak.
        Dari fenomena tersebut saya menjadi tau ternyata sampai sedetail itu kita harus bersikap terhadap alam untuk mendapatkan performa bahwa telah melakukan hablumminal alam. Tapi benarkah demikian? Padahal  hablumminal alam adalah bagian dari triologi pembentukan akhlakul karimah lalu, apakah seseorang yang tidak memiliki pemikiran seperti itu dan tetap kukuh pendirian dengan teori bahwa hama adalah hewan yang merusak tanaman dan meruguikan petani merupakan orang yang tidak memiliki akhlah karimah? Benarkah? Dan bukan hanya itu bahkan statmen di atas sudah menyangkut konsep rizqi  halalan toyyibah yang artinya baik dari cara mendapatkan atau bentuk fisik itu boleh dan baik dimakan sesuai dengan syariat.

Karangan

Judge Mental Beberapa hari lalu, bahkan hari ini masih menjadi sorotan tajam dan perbincangan yang hangat tentang kasusu prostitusi onl...