Jumat, 03 April 2020

diskusi

doc.pribadi 

SUDAHKAH KITA HABLUMMINAL’ALM?
Oleh : BeMas’udah


“Bagaimana bisa dikatakan hablummnianal’alam kalau mengusir hama yang ada pada tanaman saja masih menggunakan racun atau bahan kimia untuk mematikannya? Dan apakah hasil panennya yang dinikmati itu masih relevan dengan konsep Halalan Toyyibah yang sejak dulu sudah di gembor-gemborkannya?”
Begitulah kira-kira statment yang dilontarkan oleh salah satu perwakilan organisasi Lidah Tani dari Blora pada saat konferensi agraria yang perah saya terjebak dalam diskusinya.  Kalimatnya cukup membuat bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri. Itu adalah kalimat yang sangat menyentuh hati saya terkait dengan lingkungan alam. Bukan hanya itu tetapi dia menyinggung tentang konsep halalan toyyibah yang dalam agama islam sudah menjadi dalil dasar pada konteks rizqi. Begitu kritis dan rasional memang. Saya tidak menyangka bahwa seorang petani dari desa memiliki pemikiran yang sangat luar biasa bahkan pemikiran tersebut belum tentu muncul dan tergagas dari otak para kritikus atau akademisi.
           Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan pernyataan diatas dengan alasan bahwa hama atau serangga memang hewan yang mengganggu tanaman dan harus disingkirkan bahkan dibunuh, karena akan merugikan petani dan memperlambat produktivitas panen. Sebelumnya saya juga berfikiran demikian akan tetapi setelah mendengar statment dari pak Thoha, seorang petani dari Blora yang memiliki tenggang rasa yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar dan ternyata saya terpengaruh dengan pemikirannya. Pemikiran yang berbanding terbalik dengan apa yang saya pikirkan.
      Menurutnya, tak ada hak bagi kita membunuh apa-apa yang sudah tuhan ciptakan. Ia membiarkannya hidup hanya saja tidak membiarkannya untuk berkembang biak. Jadi lahirnya pemikiran yang kritis tersebut juga dibarengi dengan action yang sungguh luar biasa. Tidak hanya kritak kritik tanpa adanya progres seperti mahasiswa yang sukanya demo dan tak memberi solusi. Ia memiliki pemikiran yang jauh lebih berkualitas yaitu dibuktuikan dengan adanya tindakan dengan membuat pupuk alami dengan sahabat-sahabat lidah tani. Pupuk tersebut digunakan untuk mempertahankan tanaman-tanamanya agar tetap bertahan samapi panane itu tiba. Pupuknya bukan bersifat membunuh tetapi hanya bersifat menghentikan populasi hama agar tidak berambah banyak.
        Dari fenomena tersebut saya menjadi tau ternyata sampai sedetail itu kita harus bersikap terhadap alam untuk mendapatkan performa bahwa telah melakukan hablumminal alam. Tapi benarkah demikian? Padahal  hablumminal alam adalah bagian dari triologi pembentukan akhlakul karimah lalu, apakah seseorang yang tidak memiliki pemikiran seperti itu dan tetap kukuh pendirian dengan teori bahwa hama adalah hewan yang merusak tanaman dan meruguikan petani merupakan orang yang tidak memiliki akhlah karimah? Benarkah? Dan bukan hanya itu bahkan statmen di atas sudah menyangkut konsep rizqi  halalan toyyibah yang artinya baik dari cara mendapatkan atau bentuk fisik itu boleh dan baik dimakan sesuai dengan syariat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karangan

Judge Mental Beberapa hari lalu, bahkan hari ini masih menjadi sorotan tajam dan perbincangan yang hangat tentang kasusu prostitusi onl...