![]() |
| doc.pribadi |
SUDAHKAH KITA HABLUMMINAL’ALM?
Oleh : BeMas’udah
“Bagaimana bisa
dikatakan hablummnianal’alam kalau
mengusir hama yang ada pada tanaman saja masih menggunakan racun atau bahan
kimia untuk mematikannya? Dan apakah hasil panennya yang dinikmati itu masih
relevan dengan konsep Halalan Toyyibah yang
sejak dulu sudah di gembor-gemborkannya?”
Begitulah kira-kira statment yang dilontarkan oleh salah satu
perwakilan organisasi Lidah Tani dari Blora pada saat konferensi agraria yang
perah saya terjebak dalam diskusinya.
Kalimatnya cukup membuat bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri. Itu adalah
kalimat yang sangat menyentuh hati saya terkait dengan lingkungan alam. Bukan
hanya itu tetapi dia menyinggung tentang konsep halalan toyyibah yang dalam
agama islam sudah menjadi dalil dasar pada konteks rizqi. Begitu kritis dan
rasional memang. Saya tidak menyangka bahwa seorang petani dari desa memiliki
pemikiran yang sangat luar biasa bahkan pemikiran tersebut belum tentu muncul
dan tergagas dari otak para kritikus atau akademisi.
Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan pernyataan diatas dengan
alasan bahwa hama atau serangga memang hewan yang mengganggu tanaman dan harus
disingkirkan bahkan dibunuh, karena akan merugikan petani dan memperlambat
produktivitas panen. Sebelumnya saya juga berfikiran demikian akan tetapi
setelah mendengar statment dari pak Thoha, seorang petani dari Blora yang
memiliki tenggang rasa yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar dan
ternyata saya terpengaruh dengan pemikirannya. Pemikiran yang berbanding
terbalik dengan apa yang saya pikirkan.
Menurutnya, tak ada hak bagi
kita membunuh apa-apa yang sudah tuhan ciptakan. Ia membiarkannya hidup hanya
saja tidak membiarkannya untuk berkembang biak. Jadi lahirnya pemikiran yang
kritis tersebut juga dibarengi dengan action yang sungguh luar biasa. Tidak
hanya kritak kritik tanpa adanya progres seperti mahasiswa yang sukanya demo
dan tak memberi solusi. Ia memiliki pemikiran yang jauh lebih berkualitas yaitu
dibuktuikan dengan adanya tindakan dengan membuat pupuk alami dengan
sahabat-sahabat lidah tani. Pupuk tersebut digunakan untuk mempertahankan
tanaman-tanamanya agar tetap bertahan samapi panane itu tiba. Pupuknya bukan
bersifat membunuh tetapi hanya bersifat menghentikan populasi hama agar tidak
berambah banyak.
Dari fenomena tersebut saya menjadi tau ternyata sampai sedetail
itu kita harus bersikap terhadap alam untuk mendapatkan performa bahwa telah
melakukan hablumminal alam. Tapi
benarkah demikian? Padahal hablumminal alam adalah bagian dari
triologi pembentukan akhlakul karimah
lalu, apakah seseorang yang tidak memiliki pemikiran seperti itu dan tetap
kukuh pendirian dengan teori bahwa hama adalah hewan yang merusak tanaman dan
meruguikan petani merupakan orang yang tidak memiliki akhlah karimah? Benarkah?
Dan bukan hanya itu bahkan statmen di atas sudah menyangkut konsep rizqi halalan
toyyibah yang artinya baik dari cara mendapatkan atau bentuk fisik itu
boleh dan baik dimakan sesuai dengan syariat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar