Judge Mental
Beberapa hari lalu, bahkan hari ini masih menjadi sorotan tajam dan
perbincangan yang hangat tentang kasusu prostitusi onlen yang menimpa salah
satu artis tanah air. Awal tahun 2019 ini mungkin menjadi suatu peristiwa pahit
yang menimpa dirinya karna dimulai saat itulah, Popularitasnya jatuh dan tentunya ini sangat berdampak bagi
karir dan masa depannya hhe nebak aja sii. Jujur, kejadian ini sempat
membuat saya tercengang dengan munculnya beberapa media yang memuat sejumlah
berita dari sudut pandang yang berbeda mengenai kasus tersebut, sehingga dapat menggiring saya untuk percaya adanya
tragedi menjemput rizki ditahun 2019 . Bagimana tidak? Lagu yang dulu
pernah dibawakan dan sempat tenar di tahun 2012 itu adalah salah satu lagu yang
sering saya nyanyikan, walaupun Cuma
dikamar mandi si nyanyinya hehe. Yaa gimana ya, secara tidak langsung hati saya
bergumam “lh kok bisa sih?, lh gila artis nih!, lah emang dah jatuh miskin
ya sampe nglakuin kerjaan kaya gitu?” mungkin komentar hati saya ini tidak
jauh beda dengan kebanyakan netizen yang ada diluar sana.
“Delapanpuluh juta buat
beli...., delapanpuluh juta sekali celup,delapanpuluh juta bla-bla-bla”
begitulah sekarang meme-meme dan komentar sarkas netizen yang ramai beredar di
media sosial. Bahkan kata kunci 80 juta pernah menjadi tranding topic di
twitter, dan sempat bingung juga sebenarnya ada apa sih dengan 80 juta tuh? Eh ternyata, itu semacam
tarif yang ditetapkan gitu lo guys, tapi untuk berapa jam-nya sih aku ndak tau
ya hhe. Sontak aku kaget lagi tapi mikir nih “ hadu gila 80 juta gede cuy,
paling juga kerjanya gitu-gitu aja wkwk. Eh tapi kalo kalangan artis uang
segitu gede gak ya?” yaa begitulah, masih meninggalkan jawaban menggantung
dalam diri saya tentang tarif yang ditetapkan. Mahalkah? Entah.
Tak tahu kenapa, Seketika alam bawah sadar saya langsung underestimate
banget kalo denger nama artis tersebut. Ditambah dengan semakin banyak
beredarnya meme dan komentar-komentar pedas netizen membuat saya jadi
ikut-ikutan komentar sengak. Selalu mengikuti berita terkini yang muncul
di TL-ku, komentar dilontarkan, begitu asyik, mental judge saya terlihat
sangat terlatih dan soft skil ngebacot semakin bertambah. Sampai pada akhirnya tiba-tiba saya sadar dan
teringat dengan semacam wejengan dari sang budayawan Sujiwo Tedjo yang intinya “Janganlah
kita merasa lebih suci dan lebih baik dari orang yang telah melakukan suatu
kesalahan’’ disitula hati saya mulai terbuka, rasanya ingin menghapus semua
komentar yang pernah saya lontarkan. Betapa unfaedahnya pekerjaan saya
ikut mengomentari negatif hidup orang lain yang sedang terkena musibah. Di sisi
lain, memang benar bahwa disitulah saya merasa lebih suci, lebih baik, lebih berharga
dari si artis tersebut.
Setelah di telaah lagi, kenapa yang rame hanya mbak artisnya yang
di kasuskan? kenapa pengguna jasa layanannya juga tidak begitu disoroti? Tidak
diusut? Apakah karena sang pengguna layanan laki-laki gitu ya? Lebih berhak
menang? Oh jangan terlalu shuudzan mungkin saja di peraturan UU hanya memberikan hukuman terhadap pelayan
jasa saja. Yaa khusnudzan saja, yang dilakukan oleh aparat hukum itu yang
paling adil dan paling benar atas dasar kemanusiaan. Anggap saja kesenjangan
gender sudah tidak ada, dan inilah output dari era yang menggembar-gemborkan
kesetaraan gender. Hahaha
Salam Waras!
NB: Artikel ini saya tulis pada tahun 2019, pada saat itu sedang panas berita tentang seorang artis yang terjerat dalam kasus prostitusi onlen. bukan bermaksud mengungkit kembali tetapi memang baru saya post tahun ini hahah lama bgt gatau dah ngapain aja kemaren-kemaren.
