Terpasung rindu
Oleh : BeMas’udah
Dalam kesunyian
Dapatkah kubisikkan kepadamu?
Setitik rindu yang menyapa
Membuatku menolak untuk memejamkan mata
Kau memutar memori lama tuk bernostalgia
Ah,nyata tapi tak teraba!
Bagaimana mungkin aku terpejam,
Jika yang terngiang bersama kegelapan itu adalah tubuhmu yang
terbaring dan terbujur kaku
Bibir yang pucat dan tak
lagi menyapaku
Mata yang terpejam dan tak bisa lagi melihat ceriaku
Tangan yang saling
menggenggam dan tak lagi menggandengku
Bahu yang tak tangguh lagi menjadi senderanku
Aku sama sekali tak sanggup!
Ayah..
Cukup sekali saja aku terpukul akan kepergianmu
Cukup sekalisaja aku menangis menderu merayakan kehilanganmu
Karna jika kau selalu hadir dalam setiap mimpi yang tak
berkesudahan,
Maka itu artinya aku selalu kehilanganmu berkali kali
Dan aku tidak sanggup!
Aku tak sanggup kau memasung mimpi-mimpiku
Tapi mengapa kau selalu hadir dan menghiasi mimpiku dengan
tragedi-tragedi yang tak ingin ku lihat kembali?
Ayah..
Bukan itu yang aku rindukan
Tapi lantunan adzan subuhmu yang membangunkan
Gema takbirmu yang memenuhi sudut pengimaman
Suara wiridmu yang rindu aku nantikan
Dan nasehat-nasehatmu yang
terkadang mengesalkan
Yah,Aku merasa kesepian ditengah kerumunan
Merasa menjadi minoritas didalam mayoritas
Merasa tersiksadalam kebebasan semesta
Entah
Entah
Entah
Penopangku serasa patah
Dan aku tak tahu caraku berpasrah
Aku hanya mampu terdiam
Terpejam
Lalu belajar mengikhlaskan
Semarang, 30 September 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar